Kepada Engkau yang tak henti menebarkan
cinta dan kerinduan,
Kepada Engkau yang tak henti menghangatkan bongkahan es
bernama hati,
Kepada Engkau yang senantiasa memberi maaf atas segala kesalahan
yang sengaja maupun yang tak pernah disadari. Kepada saudara-saudaraku,
sahabat-sahabatku, Ayolah! Ayolah, kita istirah sejenak dari gegap gempita
pesta-pesta kehidupan untuk berdiam sunyi merenungi diri, apa sesungguhnya
pesan yang ingin disampaikan dari segala peristiwa hidup yang kita alami ini.
Dari segala carut-marut masalah yang tak henti datang silih berganti. Kita
begitu cepat mengeluarkan airmata dan tak lama untuk menikmati sebuah senyuman.
Kita sepertinya begitu bangga mengumbar amarah, dendam, kebencian, dan
kesombongan, namun begitu susah untuk menerima segala kesalahan.
Kerelaan-kerelaan untuk memberi maaf, seperti susahnya mencari jarum di ruang
gelap yang begitu pekat. Saudara-saudaraku, sahabat-sahabat terindahku baik di
meja-meja diskusi, di panggung-panggung pementasan, di pinggir-pinggir jalan,
di pusat-pusat perbelanjaan, di pusat-pusat ibadah, di kantor-kantor mewah, di
dewan-dewan dan majelis, dan di pusat-pusat pemerintahan. Kebencian dan cinta
datang silih berganti—bersindikat. Muncul berkelebat-kelebat, cepat,
rebut-unggul, tumpang tindih, dan mencengkeram kuat di dalam ruang gelap
bernama hati. Sungguh, mungkin kita telah dibutakan, mungkin kita telah
dibisukan, mungkin kita telah ditulikan. Kita tak pernah menyadari, bahwa
sebenarnya kita terlalu pekat menorehkan warna hitam di sebongkah daging
bernama hati. Saudara-saudaraku, sedulur-seduluku, ikrar cinta para kekasih,
selayaknya kita dendangan bersama. Kita satukan dalam satu tarikan nafas
kerelaan, kesadaran, dan keikhlasan. Kita satukan ikrar cinta dalam satu gelas
air kesungguhan—ketotalitasan. Ikrar cinta para kekasih, selayaknya kita kumandangkan
untuk bisa memahami, sungguh bermaknanya keindahan kebersamaan, keindahan
berbagi, keindahan saling menghargai, dan keindahan saling memiliki. Tidakkah
kau pernah menyadari, sedulurku semua, baik di kota-kota besar, di
pinggir-pinggir pantai, di pucuk-pucuk gunung, bagaimana cinta para kekasih
memberikan kedamaian diri, kemaslahatan umat, bermasyarakat, beragama, dan juga
kedamaian semesta.