Mahasiswa
adalah kelompok paling dinamis dalam masyarakat dan teramat peka
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Apalagi
mengenai kebebasan dan keadilan, mahasiswa biasanya bersifat kurang
sabar. Karena mereka pembawa panji idealisme dan pembaharuan. Dengan
pendidikan serta pengetahuan , kemampuan “ bervisi “ dan “ berasa “ terhadap
masa depan, mereka tak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab hari
depan bangsa dan hari depan dirinya sendiri. emosi, akal dan nalurinya
lebih terarah kepada masa depan. Dengan pelbagai cara mereka akan
melibatkan diri dalam proses-proses perubahan masyarakat dan Negara,
baik dalam gerakan-gerakan pendobrak maupun kontrol sosial. Mereka akan
tetap bergerak, baik didalam maupun diluar kampus mereka sendiri
Kelompok pemuda terpelajar yang tergabung dalam gerakan mahasiswa dengan
kualitas yang lebih tinggi dibidang kelimuan. Dengan kesadaran dan
loyalitas melihat kondisi sekitarnya akan timbul keprihatinan dan
menimbulkan perubahan. Pada keadaan inilah golongan masyarakat ini akan
menjadi kekuatan yang mampu menggerakan elemen-elemen lain dalam sistem
politik Indonesia. Gerakan yang dilakukan di kampus maupun di luar
kampus akan menjadi ancaman serius bagi pemerintah yang melakukan
penyimpangan dari amanat aspirasi rakyat. Francoise Raillon (1989: 3-4)
menjelaskan konsepsi generasi lebih ber orientasi pada kesatuan umur dan
dan mereka mempunyai kesamaan cita-cita dalam menunaikan sebuah peranan
yang sangat menentukan pada saat-asat terpenting dalam sejarah
Indonesia. Tokoh-tokoh mahasiswa angkatan ’45 yang akhirnya menjadi
pemimpin setelah era kemerdekaan. Ini merupakan bukti bahwa mahasiswa
yang nanti akan menjadi penerus pembangunan. Setelah berahirnya era
mahasiswa angkatan ’45 (karena telah berganti fungsi menjadi penguasa
politik) maka harus muncul generasi baru yang menjadi penontrol
pemerintahan yang berkuasa.